A.DEFINISI
KEMUKJIZATAN AL-QURAN
Kata mukjizat dari segi bahasa berarti melemahkan, menundukkan, atau
ketidak mampuan mengerjakan sesuatu. Sedangkan menurut istilah berarti suatu
perkara yang tidak dapat dilakukan manusia baik secara individu maupun
kolektif. Dikehendaki dengan i’jaz dalam pembahaan ini ialah:
إظهار صد ق ا لنبي فى دعو ى ا لر سا لة بإظهار عجز العرب
عن معار ضته فى معجزته الخالدة وهي القران وعزالأجيال بعدهم.
“Memperlihatkan kebenaran nabi dalam pernyataan
sebagai seorang rosul, dengan memperlihatkan kelemahan orang arab dalam
menantangnya terhadap mu’jizatnya yang kekal yaitu al-Qur’an dan kelemahan
orang-orang yang datang sesudah mereka”.1
Dan mu’jizat ialah:
أمر خارق للعادة يظهره الله على يد نبي
تابدا لنبوته
“Sesuatu
(hal atau urusan) yang menyalahi adat kebiasaan yang ditampakkan Allah diatas
kekuasaan seorang nabi untuk memperkuat kenabiannya”.2
Sedangkan menurut Manna al-Qattan, I’jaz
(kemukjizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum
adalah ketidak mampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari qudrah (potensi, power,
kemampuan). Apabila kemukjizatan muncul, maka nampaklah kemampuan mu’jiz
(sesuatu yang melemahkan. Yang dimaksud dengan i’jaz dalam pembahasan ini ialah
menampakkan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai seorang rasul, dengan
menampakkan kelemahan orang Arab dalam melawan mukjizat yang kekal yakni
al-Quran dan orang-orang sesudah mereka.3
-----------------------------------------
1) Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy , Ilmu-ilmu Al-quran,Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012, Cetakan Ke-4 Hal:
293
2) Ibid1.
3) Manna Khalil al-Qattan , Studi Ilmu-ilmu Al-quran,Bogor: Litera Antar Nusa, 2004, Cetakan Ke-8 Hal:371
Maka mukjizat adalah sebuah peristiwa,
urusan, perkara yang luar biasa yang dibarengi dengan tantangan dan tidak bisa
dikalahkan. al-Quran menantang orang-orang Arab, mereka tidak kuasa melawan
meskipun mereka merupakan orang-orang yang fasih, hal ini tiada lain karena
al-Quran adalah mukjizat.
Al-Quran memiliki keistimewaan bila dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat
para nabi sebelumnya. Mukjizat para nabi sebelumnya merupakan mukjizat yang
hanya dapat diindera dan dibuktikan oleh kaum dan orang-orang yang sezaman
dengan nabi tersebut, dan tidak dapat diketahui olehorang-rang setelahnya
kecuali melalui berita, sedangkan mukjizat al-Quran adalah mukjizat yang dapat
diindera dan dibuktikan oleh seluruh manusia disetiap masa sampai hari kiamat.
B.TAHAP-TAHAP
RASULULLOH MENANTANG BANGSA ARAB DENGAN AL-QURAN
1 Rasulullah Saw. menantang bangsa Arab dengan Al-Qur`an
secara keseluruhannya, dalam bentuk cakupan yang luas meliputi seluruh jin dan
manusia. Dalam hal ini Allah menjelaskan dalam Al-Qur`an
قل لئن اجتمعت الإنس والجن على ان
يأتوا بمثل هذا القران لايأتونبمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهيرا
Artinya
: Katakanlah, "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat
yang serupa (dengan) Al-Qura`an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang
serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.
2
Rasulullah Saw. menantang bangsa Arab dengan sepuluh surat dari Al-Qur`an,
sebagaimana di jelaskan dalam firman Allah :
ام يقولون افتراه ۗ قل فأتوا بعشر
سور مثله مفتريات وادعوا مناستطعتم من دون الله ان كنتم صادقين فا لم يستجيبوا
لكم فاعلمو انماانزل بعلمالله وان لا اله الا هو ۚ فهل انتم مسلمون
Artinya
: Bahkan mereka mengatakan, "Dia (Muhammad) telah membuat-buat Al-Qur`an
itu." Katakanlah, "(Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surat
semisal dengannya (Al-Qur`an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja diantara
kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."
3 Rasulullah menantang mereka dengan satu surat, hal ini
dijelaskan dalam firman Allah :
ام يقولون افتراه ۗ قل فأتوا بسورة
مثله وادعوا من استطعتم من دونالله ان كنتم صادقين ( يونس : 38 (
Artinya
: Apakah pantas mereka mengatakan dia
(Muhammad) yang telah membuat-buatnya? Katakanlah, "Buatlah sebuah surat
yang semisal dengan surat (Al-Qur`an), dan ajaklah siapa saja diantara kamu
orang yang mampu (membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."
Di
ayat lain :
وان كنتم في ريب مما نزلنا على
عبدنا فأتوا بسورة من مثله ۖ واعواشهداءكم من دون الله ان كنتم صادقين
Artinya
: Dan jika kamu meragukan (Al-Qur`an) yang
Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal
dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang
yang benar."
Pada masa itukita ketahui bahwa bangsa arab adalah para ahli bahasa dan
balaghah, namun keunggulan yang mereka miliki itu membuat mereka tidak mampu
untuk mendatangkan tandingan Al-Qur`an. Mereka telah berupaya keras untuk
mencari-cari sisi kelemahan dan kekurangan dalam Al-Qur`an, tapi pada akhirnya
upaya mereka tidak membuahkan hasil.
Mereka terbungkam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga untuk
merendahkan al-Qur`an mereka mencoba dengan cara lain, dengan mengatakan :
al-Qur`an adalah sihir, perkataan ahli sya`ir, atau orang gila atau dongeng
orang-orang masa lampau, sehingga telah nyata bahwasanya bangsa Arab tidak
sanggup menandingi kehebatan al-Qur`an meskipun mereka pakar dalam bidang
bahasa dan balaghah. Dan juga kemukjizatan al-Qur`an sebagai tantangan untuk seluruh
umat dalam segala masa.
C.MACAM-MACAM
KEMUKJIZATAN AL-QURAN
secara garis besar macam-macam mukjizat terbagi menjadi dua,yaitu mukjizat yang bersifat Material Inderawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial logis dan dapat dibuktikan sepanjang masa.
a.Mukjizat
Material Inderawi
Mukjizat ini terdapat pada nabi
-nabi terdahulu, artinya bahwa keluarbiasaan tersebut dapat
disaksikan dan dijangkau langsung lewat indera oleh umat-umat tempat nabi-nabi menyampaikan risalah.
Perahu Nabi Nuh yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan
dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat. Tidak terbakarnya Nabi
Ibrahim a.s dalam kobaran api yang sangat besar; berubah wujudnya tongkat Nabi
Musa a.s. menjadi ular; penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. atas izin
Allah, dan lain-lain, kesemuanya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas
pada lokasi tempat mereka berada, dan berakhir dengan wafatnya mereka.
b.Mukjizat Immaterial Logis
Yaitu mukjizat yang diturunkan kepada nabi terakhir yaitu Muhammad shallalu’alai wasallamberupamukjizatal-Quran yang sifatnya bukan inderawi atau material tetapi
dapat dipahami akal dan tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu.
Mukjizat al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya
dimana dan kapan-pun.
1.Para
Nabi sebelum Nabi Muhammad shalallahu’alai wasallam, ditugaskan untuk masyarakat dan masa
tertentu. Karena itu,mukjizat mereka hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tersebut, tidak untuk
sesudah mereka. Ini berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammadshalallahu’alai wasallam yang diutus untuk seluruh umat manusia sampai akhir
zaman.
2.Manusia mengalami perkembangan dalam
pemikiranya. Umat para Nabi khususnya sebelum Nabi Muhammad shalallahu’ alai
wasallam membutuhkan bukti kebenaran yang sesuai
dengan tingkat pemikiran mereka. Bukti tersebut harus demikian jelas dan
langsung terjangkau oleh indra mereka. Akan tetapi, setelah manusia mulai menanjak ke tahap kedewasaan
berpikir, bukti yang bersifat indrawi tidak dibutuhkan lagi.
D.SEGI-SEGI
KEMUKJIZATAN AL-QURAN
Para ulama telah menyebutkan aspek-aspek kemukjizatan al-Quran. Namun demikian mereka berbeda pendapat dalam meninjau
segi kemukjizatan al-Quran. Perbedaan itu adalah sebagai berikut:
1.Abu Ishaq Ibrahim An-Nazham dan
pengikutnya dari kaum syi’ah berpendapat, bahwa kemukjizatan al-Quran adalah
dengan cara shifrah (pemalingan). Arti shifrah dalam pandangan An-Nazam ialah, Allah memalingkan
orang-orang arab untuk menantang al-Quran, padahal sebenarnya mereka mampu
menghadapinya.
2.Sebagian ulama berpendapat bahwa segi
kemukjizatan al-Quran adalah karena ia mengandung badi’ yang sangat unik dan berbeda dengan apa yang telah dikenal oleh orang-orang
arab seperti fashilah dan maqtha’.
3.Sebagian yang lain berpendapat bahwa
segi kemukjizatan al-Quran itu terkandung balaghah tangkat tinggi, redaksinya yang bernilai sastra dan
susunannya yang indah, karena nilai sastra yang terkandung dalam al-Quran itu
sangat tinggi dan tidak ada bandingannya.
4.Ulama lain berpendapat bahwa
kemukjizatan itu karena al-Quran terhindar dari adanya pertentangan, dan
mengandung arti yang lembut dan memuat hal-hal ghaib diluar kemampuan manusia
dan diluar kekuasaan mereka untuk mengetahuinya.
5.Ada
juga ulama yang berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Quran adalah mengandung
bermacam-macam ilmu dan hikmahyang sangat dalam, baik dalam permulaan, tujuan
maupun dalam menutup setiap surat.
Adapun
mengenai segi manakah kemukjizatan itu kami akan menguraikan tiga macam Aspek
kemukjizatan al-Quran seperti: aspek bahasa, aspek Ilmiah,Aspek Tasyria
(Hukum).
A.Aspek
Kemukjizatan Bahasa
Dalam sejarah mengatakan bahwa pada masa itu bangsa Arab adalah para ahli
bahasa dan balaghah. Para pakar bahasa Arab ttelah menekuniilmu ini sejak awal.
Mereka merubah puisi, prosa, kata-kata bijak, dan matsalyang dideskripsikan dalamredaksi – redaksi yang
memukau.
Para ahli bahasa telah terjun dalam festival bahasa dan mereka memperoleh
kemenangan. Akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang sanggup menandingi
keindahan bahasa yang terdapat dalam al-Quran. Bahkan sejarah mencatat
kelemahan bahasa ini terjadi pada masakemajuan dan kejayaannya ketika al-Quran
diturunkan.
Al-Qur'an memperlihatkan kefasihan dan balaghah-nya. Artinya, untuk menyampaikan maksud dan tujuan
dalam setiap masalah, Allah SWT menggunakan kata dan kalimat yang paling
lembut, indah, ringan, serasi, dan kokoh. Melalui cara tersebut, Dia
menyampaikan makna-makna yang dimaksudkan kepada para mukhathab, yaitu melalui sastra yang paling baik dan mudah
dipahami.
Setiap orang yang berkonsentrasi mempelajari al-Quran tentu akan mendapati
keindahan bahasa yang dimiliki al-Quran, yaitu dalam keteraturan bunyinya yang
indah melalui nada-nada hurufnya ketika ia mendengarharakat dan sukun-nya, madd dan ghunnah-nya, fashilah dan maqtha’nya sehingga tidak pernah menjadikan bosan siapa saja yang
mempelajarinya.
Tentunya, tidak mudah memilih kata dan kalimat yang akurat dan sesuai
dengan makna-makna yang tinggi dan mendalam kecuali bagi orang yang telah
menguasai sepenuhnya ciri-ciri kata, makna yang dalam dan hubungan imbal balik
antara kata dan maknanya agar dapat memilih kata dan ungkapan yang paling baik
dengan memperhatikan seluruh dimensi, kondisi dan kedudukan makna yang
dimaksudkan. Pengetahuan lengkap tentang hal itu tidak mungkin dapat dicapai
oleh siapapun kecuali dengan bantuan wahyu dan ilham Ilahi.
Kemukjizatan
dapat didapatkan pula pada khithab dimana berbagai golongan manusia yang berbeda tingkat
intelektualnya dapat memahami khithab itu sesuai dengan tingkat akalnya,
sehinggamasing-masing mereka memandangnya cocokdengan tinkatan akalnya, baik
mereka yang awam maupun orang berilmu.
B.Aspek
Kemukjizatan Ilmiah
Kebanyakan manusia keliru ketika mereka beranggapan bahwa Al-Qur`an
mengandung semua teori ilmiah. Sehingga setiap kali muncul teori keilmuwan yang
baru, mereka berupaya mencocokkannya dengan Al-Qur`an agar sesuai dengan teori
tersebut.
Sumber kekeliruan dalam hal ini adalah, bahwa ilmu pengetahuan selalu
mengalami perkembangan seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman. Sehingga
ilmu itu masih dalam upaya penyempurnaan terus menerus dan terkadang mengalami
kekeliruan. Dan ini terus berlanjut sampai mendekati pada kebenaran dan derajat
yakin. Dan setiap teori akan melewati masa pengkajian, percobaan sampai pada
tahap pembenaran.
Orang-orang yang menafsirkan Al-Qur`an dengan mencocokannya dengan teori
ilmiah, dan berupaya untuk mengambil dari Al-Qur`an pencocokan terhadap
berbagai permasalahn dalam lingkup ilmiah, sama halnya mereka telah berlaku
buruk pada Al-Qur`an, walaupun mereka beranggapan bahwa tindakan itu benar.
Karena
problem-problem keilmuwan selalu mengalami perubahan, sehingga ketika
penafsiran Al-Qur`an dengan cara demikian, kemudian teori itu berubah atau
gagal maka sama halnya kebenaran al-Qur`an akan menjadi diragukan. Al-Qur`an
adalah kitab hidayah dan aqidah, yang mengajak jiwa-jiwa manusia untuk menempuh
jalan-jalan mulia dan terpuji.
Kemukzijatan ilmiah yang dimiliki oleh Al-Qur`an bukan terletak pada sisi
cakupannya terhadap seluruh aspek teori-teori ilmiah yang akan selalu bertambah
dan mengalami perubahan, akan tetapi terletak pada anjurannya untuk selalu
berfikir. Al-Qur`an memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya memikirkan
penciptaan alam semesta.
Maka teori keilmuwan apapun, kaidah apapun, yang akan meneguhkan posisi
akal, menguatkan keyakinannya, terwujud dari aplikasi berfikir yang sehat
sebagaimana yang dianjurkan Al-Qur`an.
Al-Qur`an
menjadikan upaya berfikir terhadap penciptaan alam semesta sebagai bentuk
sarana menumbuhkan dan menambah keimanan pada Allah.
Al-Qur`an
memerintahkan untuk memikirkan tentang makhluk Allah yang ada di langit dan
bumi [Ali Imran : 190-191]
Al-Qur`an
juga memerintahkan manusia memikirkan tentang dirinya, tentang bumi yang ia
tinggal di dalamnya dan tentang alam yang mengitarinya [Ar-Rum: 8]
Al-Qur`an
juga memerintahkan untuk menggunakan akal untuk memahami, mengetahui terhadap
berbagai hal [ Al-Baqarah: 219]
Al-Qur`an
telah mengangkat posisi muslim dengan keutamaan ilmu [Almujadalah : 11]
Dengan demikian jelas bagi kita bahwa kemukjizatan ilmiah Al-Qur`an
menuntun untuk berfikir dan membuka untuk kaum muslimin pintu-pintu
pengetahuan, dan mengajak mereka untuk berkontribusi di dalamnya, berkembang
dan menerima setiap inovasi yang dimunculklan dari penemuan-penemuan ilmiah.
Begitulah
isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur`an yang datang dalam bentuk petunjuk ilahi
agar manusia mencari dan terus melakukan berbagai perenungan.
C.Aspek
Kemukjizatan Syariat
Manusia secaragharizah(naluri) merupakan makhluk sosial yang
membutuhkan orang lain. Dan rasa saling membutuhkan tidak akan pernah bisa
dilepaskan dari manusia. Sikap hidup saling bantu membantu merupakan gambaran
begitu perlunya terbina hubungan yang harmonis antara satu dengan yang lain.
Namun disi lain, sering kali kita temukan seseorang berlaku zhalim pada orang lain, atau mengambil hak-hak orang lain dengan paksa. Hal ini
terjadi disebabkan tidak adanya nya peraturan atau undang-undang yang
diberlakukan untuk menjaga kehormanisan kehidupan ditengah manusia. Sehingga
pada akhirnya kehidupan manusia akan kacau dan hak-hak setiap orang terampas
oleh orang yang lebih kuat.
Sudah banyak kita temukan dalam sejarah kehidupan manusia tentang
upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan adil, tapi
sering kali upaya itu tidak sampai pada tujuan yang diinginkan. Sehingga
kehidupan harmonis yang diharapkan tidak pernah terealisasi.
Islam datang membawa keadilan, membawa syariat untuk menciptakan kenyaman
dalam hidup bermasyarakat. Dalam pembentukan masyarakat yang baik tidak dapat
terlepas dari upaya awal untuk membentuk dan mendidik kepribadian yang baik
pula. Sehingga bila setiap individu yang menjadi anggota masyarakt telah baik,
secara tidak langsung kebaikan itu akan memunculkan kebaikan koletif.
Al-Qur`an menuntun setiap muslim untuk memegang teguh ketauhidan yang
merupakan landasan pokok dalam beramal. Ketauhidan ini akan menjauhkan dirinya
dari keyakinan terhadap khurafat, keraguan, dan dari menjadi budak nafsu serta
penyembahan terhadap syahwat. Sehingga ia menjadi seorang hamba yang bersih
keyakinannya pada Allah. Yang hanya patuh dan tunduk pada Tuhan yang satu.
Tidak butuh kepada selainNya. Tuhan yang memiliki kesempurnaan. Yang darinya
datang segala kebaikan untuk segenap makhlukNya. Dialah tuhan yang satu,
pencipta yang satu, yang maha kuasa atas segala sesuatu.
Apabila akidah seorang muslim telah lurus dan benar maka hendaklah ia
mengambil konsep hidupnya sesuai dengan tuntunan syariat yang dinyatakan dalam
Al-Qur`an. Setiap ibadah fardhu yang ditujukan untuk kemaslahatan individu akan
tetapi pada waktu yang bersamaan ia juga bertujuan untuk kemaslahatan hidup
bersama.
Ibadah shalat bertujuan untuk mencegah seseorang dari berperilaku keji dan
mungkar [Al-Angkabut : 45]. Dengan terlaksananya shalat dengan baik, akan
terpancarlah pada diri seorang muslim sikap yang baik pula, tenang dan membawa
kedamaian pada orang yang ada disekitarnya.
Zakat membuang dari diri sikap bakhil, kecintaan pada dunia, ketamakan pada
harta. Disisi lain zakat akan menjadi sarana saling tolong menolong antara yang
kaya pada yang miskin. Dimana yang kaya memberikan sebahagian dari hartanya
untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan berhak.
Ibadah
haji adalah sarana untuk latihan diri menempuh kesulitan. Pada saat haji semua
manusia akan berkumpul pada satu tempat, semuanya dengan pakaian yang sama, dan
tidak ada yang membedakan mereka kecuali ketakwaan.
Sedangkan puasa melatih seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya. Ketika
berpuasa seseorang akan dilatih untuk menahan amarahnya. Disamping akan
terlatih kejujurannya. Semua ibadah diatas bila dilaksanakan dengan sebagaimana
mestinya akan melahirkan dalam diri setiap muslim pribadi yang soleh, Al-Qur`an
juga mengajarkan untuk berlaku sabar, jujur, bersikap adil, ihsan, memaafkan
orang lain dan sikap-sikap mulia lainnya.
Al-Quran juga telah menetapkan perlindungan terhadap dharuriyah al-khomsahatau (lima kebutuhan primer) bagi
kehidupan manusia yaitu : jiwa,agama,kehormatan,harta benda,dan akal. Lalu
menerapkan hukuman-hukuman yang tegas pada setiap poin-poinya sehingga dikenal
dalam fiqih islam hukum jinayat dan hudud.
Al-Quran juga menetapkan hukum terntang hubungan internasional antara kaum
muslimin dengan negara tetangga atau dengan merika yang mengadakan perjanjian
damai (mu’ahad). Juga kekuasaan legislatif dalam sistem pemerintahan islam diatur dalam
al-Quran.
Ringkasnya al-quran meupakan
Dustur Tasyri’i (sistem perundang-undangan) paripurna yang membangun kehidupan
manusia diatas dasar konsep yang paling tinggi dan mulia. Kemukjizatan
Tasyri’inya ini tidak bisa dipisahkan dari kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan
bahasanya. Ketiganya akan senantiasa eksis bersama tak seorangpun dapat
mengingkari bahwa al-Quran memiliki kemukjizatan sebagai bukti kekuasaan Allah
KESIMPULAN
Mukjizat adalah sebuah peristiwa,
urusan, perkara yang luar biasa yang dibarengi dengan tantangan dan tidak bisa
dikalahkan. al-Quran menantang orang-orang Arab, mereka tidak kuasa melawan
meskipun mereka merupakan orang-orang yang fasih, hal ini tiada lain karena al-Quran adalah mukjizat.
Mukjizatterbagi menjadi dua,yaitu
mukjizat yang bersifat Material Inderawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial logis. Mukjizat Material Inderawi adalah
mukjizat yang dapat disaksikan dan dijangkau langsung
lewat indera dan terdapat pada rasul-rasul terdahulu
yang sifatnya terbatas pada lokasi tempat mereka
berada, dan berakhir dengan wafatnya rasul tersebut. Sedangkan mukjizat imaterial logis
merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi
terakhir yaitu Muhammad shallalu’alai wasallamberupa mukjizatal-Quran yang sifatnya bukan inderawi atau material tetapi dapat dipahami akal dan
tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat al-Quran dapat
dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapan-pun.
Segi kemukjizatan al-Quran dilihat dari
3 aspek yang pertama dari segi bahasanya yangmemperlihatkankefasihan dan menggunakan kata dan kalimat yang paling
lembut, indah, ringan, serasi, dan kokoh serta melalui sastra yang paling baik dan
mudah dipahami.Kedua, segi ilmiah dimana al-Qur'anmenuntun manusia untuk berfikir dan membuka pintu-pintu pengetahuan, dan mengajak untuk
berkontribusi di dalamnya, berkembang dan menerima setiap inovasi yang
dimunculklan dari penemuan-penemuan ilmiah akan tetapi hal ini bukan berarti al-Quran mengandung semua teori ilmiah. Yang ketiga dari segi
syariat dimana al-Quran meupakan Dustur Tasyri’i (sistem perundang-undangan)
paripurna yang membangun kehidupan manusia diatas dasar konsep yang paling
tinggi dan mulia sehingga terciptalah kehidupan yang adil dan sejahtera.
Al-Quran sebagai mukjizat menunjukkan kepada kita tentang kebenaran nabi sebagai seorang rosul,
dengan memperlihatkan kelemahan orang arab dalam menantangnya dan kelemahan
orang-orang yang datang sesudah mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad
Hasbi ash-Shiddieqy , Ilmu-ilmu Al-quran,Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012, Cetakan Ke-4Hal: 293
Manna
Khalil al-Qattan , Studi Ilmu-ilmu Al-quran,Bogor: Litera Antar Nusa, 2004, Cetakan Ke-8 Hal: 371
Tidak ada komentar:
Posting Komentar